Doa di Dinding: Seniman Ranau Lukis Kepedihan Sumatera

- Jurnalis

Jumat, 12 Desember 2025 - 09:59 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Apresiasi

LENSAPOST.CO, Ranau, — Dari tepian Danau Ranau yang tenang, lahir sebuah doa yang dituangkan bukan lewat kata-kata, melainkan melalui goresan warna. Doa itu datang dari seorang seniman berbakat Ranau, Rahmad Saleh, yang mengabadikannya dalam sebuah lukisan mural bertajuk “Pray For Sumatera.”

Lukisan tersebut menjadi gambaran cinta sekaligus kepedihan: cinta akan kekayaan alam Sumatera yang megah, dan kepedihan melihatnya terluka oleh bencana. Melalui karya itu, Rahmad ingin menyampaikan pesan bahwa keindahan alam tidak hanya untuk ditatap, tetapi juga dijaga.

Rahmad bukan pelukis yang lahir dari ruang studio mewah. Ia tumbuh di Simpang Sender, Danau Ranau, tempat kabut pagi menyelimuti bukit, air danau berkilau memantulkan langit, dan hutan menyimpan cerita-cerita tua. Ia lahir pada 15 Februari 1986, dari lingkungan yang menghargai alam sebagai bagian dari kehidupan, bukan sekadar pemandangan.

[ADS SPACE IKLAN]

Sebagai anak Ranau, ia tumbuh dengan cerita para tetua tentang hutan larangan, ulu tulung (mata air), serta kawasan mesegik—tempat yang dianggap angker dan tak boleh dirusak. Nilai-nilai itu membentuk kesadaran ekologis Rahmad sejak kecil.

“Dulu nenek moyang kami menjaga alam dengan pantangan,” tuturnya. “Siapa yang melanggar, dipercaya akan kena tulah. Alam itu diberi hormat.”

Kini, ketika bencana menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, kenangan masa kecil itu kembali menegur hatinya. Dari sanalah muncul keinginan untuk melukis doa—sebuah seruan agar manusia kembali menghormati alam.

Baca Juga :  Hibah Rp60 Miliar Senyap, Rp35 Miliar Riuh: Menagih Ulang Anatomi Kritik yang Kehilangan Napas

Mural “Pray For Sumatera” ia buat di dinding Klinik dr. Gilang Kasuma Putra, Simpang Sender. Pada bidang dinding itu, Rahmad memadukan dua wajah Sumatera: keindahan yang pernah begitu megah, dan luka yang kini menganga.

Di satu sisi, ia melukiskan perbukitan hijau, pepohonan rimbun, aliran sungai jernih, dan langit bersih—simbol kekayaan alam Sumatera dari Ranau hingga Leuser, dari Semangko hingga Toba.

Namun di sisi lain, ia sisipkan bayang-bayang bencana: air bah yang meluap, langit muram, dan manusia-manusia kecil yang sedang berdoa.

Lukisan ini tidak hanya mengajak berempati pada korban bencana, tetapi juga mengingatkan bahwa alam yang rusak akan kembali melukai manusia.

Karya Rahmad tak lahir dari ruang yang kosong. Ia adalah mantan aktivis kampus dan aktivis seni. Masa mudanya banyak dihabiskan di Kelompok Studi Seni FKIP Universitas Lampung, Divisi Seni Rupa dan Sastra. Ia beberapa kali berpameran di Bandar Lampung pada 2006, 2007, 2008, dan 2010, menunjukkan ketekunan yang jarang dimiliki seniman muda.

Di dunia teater, ia pernah menjadi penata artistik Komunitas Berkat Yakin (KoBer) asuhan Ari Pahala Hutabarat, menggarap pementasan “Rashomon” (Lampung, Padang, Pekanbaru, Bengkulu), “Pinangan”, “King Lear” (Taman Ismail Marzuki, 2018), hingga “Nusantara Amnesia” dan “Dayang Rindu.”

Baca Juga :  Satelit Lampung-1 Resmi Meluncur, Buka Era Baru Pembangunan Daerah Berbasis Data

Bakatnya di sastra pun terbukti ketika ia meraih Juara 1 Lomba Cipta Puisi Krakatau Award 2017 melalui puisi “Hikayat Buang Tondjam.”

Selain seni, Rahmad adalah pendaki alam. Ia menyusuri Pesagi, Seminung, dan Bukit Barisan Selatan—wilayah yang kini perlahan rusak oleh illegal logging dan eksploitasi tak bertanggung jawab. Dari perjalanan itu, ia belajar bahwa alam yang indah tidak selamanya kuat.

Kesadaran itulah yang kemudian menyatu dalam karya-karyanya.

Melalui mural “Pray For Sumatera,” Rahmad ingin mengingatkan bahwa kekayaan alam Sumatera adalah anugerah yang tak ternilai. Dari Danau Ranau yang membentang sunyi, hutan Bukit Barisan yang megah, sampai dataran tinggi Gayo dan lembah Minangkabau—semuanya adalah bagian dari keindahan yang layak dijaga.

Lukisan itu menjadi doa sekaligus pesan:
bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan, saling menjaga, dan saling melukai bila tak saling peduli.

Dari seorang seniman Ranau yang dibesarkan alam, mengalir sebuah harapan sederhana namun mendalam:

Agar Sumatera kembali pulih—dan Indonesia kembali belajar mencintai alamnya.

Follow WhatsApp Channel lensapost.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gubernur Mirza Pimpin Upacara HUT ke-81 RI Tingkat Provinsi Lampung, Kobarkan Semangat Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur
Massa Aksi ALAM BAKA Diterima Audiensi Ditjen Perkebunan, Surat Tuntutan Diproses
ALAM BAKA Demo di Danantara: Desak Audit Aset PTPN I dan Evaluasi KDMP-KNMP Lampung
Pemprov Lampung Raih Apresiasi Terbaik II Akses Penduduk terhadap Pelayanan Pendidikan Regional Sumatera
ALAM BAKA Guncang BGN, Bongkar Sisi Gelap MBG Lampung
Diterima Audiensi Kejagung, ALAM BAKA Desak Kasus Pesawaran, Way Kanan, dan Lampung Timur Dituntaskan
ALAM BAKA SAMBANGI KANTOR BGN: DESAK AUDIT TOTAL MBG DI LAMPUNG, JANGAN BIARKAN UANG RAKYAT HABIS TANPA DAMPAK
‎Bapenda Siapkan 45 Water Meter, Munir: Seluruh Wajib Pajak Air Permukaan Harus Diukur
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 16:02 WIB

Gubernur Mirza Pimpin Upacara HUT ke-81 RI Tingkat Provinsi Lampung, Kobarkan Semangat Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur

Kamis, 13 Agustus 2026 - 15:17 WIB

Massa Aksi ALAM BAKA Diterima Audiensi Ditjen Perkebunan, Surat Tuntutan Diproses

Kamis, 13 Agustus 2026 - 15:04 WIB

ALAM BAKA Demo di Danantara: Desak Audit Aset PTPN I dan Evaluasi KDMP-KNMP Lampung

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:27 WIB

Pemprov Lampung Raih Apresiasi Terbaik II Akses Penduduk terhadap Pelayanan Pendidikan Regional Sumatera

Senin, 10 Agustus 2026 - 16:02 WIB

ALAM BAKA Guncang BGN, Bongkar Sisi Gelap MBG Lampung

Berita Terbaru

PENDIDIKAN

Wagub Jihan Dorong Sarjana UNU Lampung Jadi Motor Ekonomi Desa

Sabtu, 22 Agu 2026 - 15:41 WIB