x

“Dari Keheningan Menuju Pencerahan: Meneruskan Warisan Pemikiran Islam Progresif K.H M. Imam Aziz”

waktu baca 3 menit
Sabtu, 23 Agu 2025 08:41 56 Redaksi

Bandar Lampung- Kelompok Studi Kader (Klasika) Lampung Bersama Komunitas Gusdurian Lampung menggelar acara “Membaca Keheningan K.H M. Imam Aziz” untuk mengenang 40 hari wafatnya K.H M. Imam Aziz, sosok ulama dan intelektual yang telah mengabdikan hidupnya untuk kemajuan Islam dan masyarakat,

Acara berlangsung di Rumah Ideologi Klasika, Sukarame, Bandar Lampung, pada Sabtu (22/08/2025) malam.

K.H M. Imam Aziz dikenal sebagai pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) yang telah berkontribusi besar dalam pengembangan kajian Islam kontemporer dan pemberdayaan masyarakat. Sebagai pengasuh Pesantren Bumi Cendikia, beliau telah mencetak generasi santri yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

[ADS SPACE IKLAN]

Acara ini dirancang sebagai refleksi mendalam atas perjalanan hidup dan warisan intelektual yang ditinggalkan oleh almarhum. Acara ini mengajak kita untuk merenungkan makna keheningan dalam spiritualitas Islam dan bagaimana dari keheningan tersebut lahir wisdom dan pencerahan.

Rangkaian kegiatan meliputi pembacaan yasin, tahlil, doa bersama, dan diskusi reflektif tentang warisan pemikiran Imam Aziz.

Wakil Rektor II UIN Raden Intan Lampung, Prof. Dr. Safari Daud, Membaca Keheningan KH. M. Imam Aziz Mengenang 40 hari Almarhum sebagai Pemikir Islam Progresif dan universal.

“Berpikir besar dan tampilan sederhana adalah dua hal yang melekat pada Mas Imam Aziz. Pemikiran Islam yang beliau gagas mengajarkan kami untuk selalu kritis dan membebaskan akal, namun tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman yang tulus. Semakin sadar keagamaan, semakin tinggi kemanusiaan. Itulah perkawinan agama dengan ilmu-ilmu sosial,” ujarnya.

Prof. Safari menekankan, ciri utama seorang pemimpin sejati adalah kegelisahan.

“Kalau pemimpin tidak punya kegelisahan, itu bukan pemimpin. Dia harus gelisah dan harus berbuat apa,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Anggota DPRD Provinsi Lampung, Fatikhatul Khoiriyah, S.Hi., M.H. Menurutnya, kegelisahan Imam Aziz justru menjadi tanda kepekaan dan keberpihakan kepada masyarakat kecil.

“Mas Imam adalah sosok yang selalu gelisah melihat ketidakadilan. Kegelisahan itu bukan kelemahan, tetapi tanda kepekaan dan keberpihakan kepada mereka yang lemah. Beliau juga humble, dengan keilmuan luas, baik di bidang keagamaan maupun sosial. Itulah yang patut kita teladani,” ujarnya.

Khoir menambahkan, pemikiran Imam Aziz menjadi teladan bagi generasi sekarang.

“Banyak tokoh yang bisa menjadi gambaran ideal bagi kita, salah satunya Mas Imam Aziz. Dari beliau kita belajar bagaimana membangun nilai dan arah untuk masa depan,” katanya.

Tokoh Nahdlatul Ulama Lampung, H. Khaidir Bujung, menyoroti kesederhanaan Imam Aziz sebagai ciri khas yang melekat sepanjang hidupnya.

“Kiai Imam selalu tampil sederhana, baik dalam keseharian maupun dalam memimpin gerakan. Kesederhanaan itulah yang membuatnya begitu dekat dengan banyak kalangan, dari santri, aktivis, hingga masyarakat akar rumput,” ungkapnya.

Sementara itu, Chepry Chairuman Hutabarat, Founder KLASIKA, mengaitkan pemikiran Imam Aziz dengan filsafat Plato.

“Mas Imam mengajarkan bahwa manusia saling terhubung oleh kepentingan, namun selalu berlandaskan kebajikan. Dalam pandangan Plato, jiwa manusia terdiri dari logistikon (akal), thumoes (semangat), dan epithumia (hasrat). Mas Imam mengutamakan logistikon akal sehat dalam setiap gerak kemanusiaannya, namun tetap seimbang dengan keberanian dan kesederhanaan. Itulah mengapa kiprah beliau membumi sekaligus bernilai universal,” ungkapnya.

Chepry juga mengingatkan pandangan filsuf Jürgen Habermas tentang pentingnya aspek emansipatoris dari pengetahuan.

“Bagi Mas Imam, pengetahuan tidak berhenti pada aspek teknis, melainkan harus menjadi kegelisahan personal yang membebaskan dan memanusiakan,” katanya.

Acara “Membaca Keheningan K.H M. Imam Aziz” ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk meneruskan cita-cita dan perjuangan almarhum K.H M. Imam Aziz dalam mengembangkan kajian Islam yang relevan dan memberdayakan masyarakat. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x