Dari Kelas yang Mengajar ke Kelas yang Berdialog: Reorientasi Pendidikan Demokrasi di Indonesia

- Jurnalis

Senin, 4 Mei 2026 - 12:30 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Apresiasi

Oleh: Nicho Hadi Wijaya (Pegiat Labfor Democracy Studies)

Pendidikan nasional selama ini masih cenderung berorientasi pada pencapaian akademik semata. Pendekatan pembelajaran yang dominan bersifat teacher-centered berpotensi menghambat berkembangnya kemampuan berpikir kritis dan dialogis peserta didik. Padahal, dalam perspektif pendidikan demokrasi, ruang kelas seharusnya menjadi arena deliberatif yang memungkinkan peserta didik untuk mengemukakan pendapat, berdiskusi, serta menghargai perbedaan.

Pendidikan demokrasi merupakan proses pembelajaran yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi seperti partisipasi, kebebasan berpendapat, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta kemampuan berpikir kritis. Pendidikan ini tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik, karena menyangkut pembentukan sikap dan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

[ADS SPACE IKLAN]

Berdasarkan laporan The Economist Intelligence Unit (EIU) 2025 mengenai Indeks Demokrasi 2024, Indeks Demokrasi Indonesia mencapai skor 6,44 dari skala tertinggi 10 perilaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dari lima dimensi yang diukur, skor terendah Indonesia ada pada ranah budaya politik (5,00) dan kebebasan sipil (5,29). Adapun skor tertinggi didapat dari dimensi proses elektoral dan pluralisme (7,92) diikuti partisipasi politik (7,22), dan berfungsinya pemerintahan (6,79). Berdasarkan rilis tersebut, Indonesia dikategorikan sebagai negara flawed democracy alias demokrasi cacat.

Baca Juga :  Hibah Rp60 Miliar Senyap, Rp35 Miliar Riuh: Menagih Ulang Anatomi Kritik yang Kehilangan Napas

Urgensi pendidikan demokrasi semakin menguat seiring dengan dinamika sosial-politik yang berkembang. Fenomena polarisasi masyarakat, rendahnya literasi politik, serta maraknya disinformasi menunjukkan bahwa kualitas demokrasi belum sepenuhnya ditopang oleh kesiapan warga negara yang kritis dan rasional. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sistem pendidikan belum optimal dalam menjalankan fungsinya sebagai wahana pembentukan karakter demokratis.

Mengutip John Dewey, pendidikan merupakan proses sosial yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokrasi. Ia menyatakan bahwa “education is not preparation for life; education is life itself.”  Dewey menolak pandangan bahwa sekolah hanya tempat “latihan” sebelum masuk ke dunia nyata, menurutnya pendidikan bukan sekadar persiapan untuk hidup di masa depan, tetapi pendidikan itu sendiri adalah bagian dari kehidupan yang sedang dijalani.

Integrasi nilai-nilai demokrasi dalam kurikulum perlu dilakukan secara sistematis, tidak hanya melalui Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, tetapi juga melalui praktik pembelajaran sehari-hari. Lembaga pendidikan sebagai institusi sosial harus mencerminkan nilai-nilai demokrasi, seperti transparansi, keadilan, serta penghargaan terhadap keberagaman.

Argumentasi ini menegaskan bahwa pendidikan merupakan bagian integral dari kehidupan itu sendiri, termasuk dalam praktik demokrasi. Demokrasi tidak hanya dipahami sebagai sistem politik, tetapi sebagai cara hidup yang menekankan interaksi sosial, kerja sama, dan partisipasi aktif. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu menciptakan pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik menginternalisasi nilai-nilai tersebut.

Baca Juga :  NU Bukan Warisan, Tapi Amanah: Catatan Seorang Nahdliyin Menjelang Muktamar Jombang

Dengan demikian, penguatan pendidikan demokrasi di Indonesia memerlukan transformasi paradigma pembelajaran. Lembaga pendidikan harus menjadi ruang deliberatif yang memungkinkan dialog terbuka, pertukaran gagasan, serta penghargaan terhadap perbedaan pendapat. Kurikulum juga perlu dirancang untuk mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah, bukan sekadar penguasaan materi. Pendekatan pembelajaran yang partisipatif dan kontekstual menjadi kunci dalam mewujudkan pendidikan demokratis.

Hari Pendidikan Nasional seyogianya tidak hanya dimaknai sebagai peringatan simbolik, tetapi sebagai momentum evaluatif terhadap peran pendidikan dalam memperkuat demokrasi di Indonesia. Pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter demokratis menjadi kebutuhan mendesak dalam menghadapi tantangan sosial-politik kontemporer. Oleh karena itu, reformasi pendidikan yang menekankan pada pengembangan berpikir kritis, partisipasi aktif, serta internalisasi nilai-nilai demokrasi perlu terus diupayakan. Dengan demikian, pendidikan dapat berfungsi secara optimal sebagai pilar utama dalam menopang keberlanjutan demokrasi di Indonesia.

Follow WhatsApp Channel lensapost.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hibah Rp60 Miliar Senyap, Rp35 Miliar Riuh: Menagih Ulang Anatomi Kritik yang Kehilangan Napas
Aris Tama: Merawat Nalar Publik di Tengah Dinamika Isu Kebangsaan
NU Bukan Warisan, Tapi Amanah: Catatan Seorang Nahdliyin Menjelang Muktamar Jombang
Rupiah atau Unit? Pertanyaan yang Belum Terjawab dari Klaim PKB Lampung
Andan Jejama: Spirit Kepemudaan dalam Membangun Pesawaran
Ketika Kota Menjadi Beban: Stresor Lingkungan Bandar Lampung dan Kesehatan Mental Warganya
Ketika Lingkungan Berbicara, Manusia Harus Mendengar Perspektif Mahasiswa Psikologi
MENGESAHKAN UU PRT: CARA MEMANUSIAKAN MANUSIA DI RUMAH KITA SENDIRI
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:53 WIB

Hibah Rp60 Miliar Senyap, Rp35 Miliar Riuh: Menagih Ulang Anatomi Kritik yang Kehilangan Napas

Senin, 3 Agustus 2026 - 23:07 WIB

Aris Tama: Merawat Nalar Publik di Tengah Dinamika Isu Kebangsaan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 23:53 WIB

NU Bukan Warisan, Tapi Amanah: Catatan Seorang Nahdliyin Menjelang Muktamar Jombang

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:56 WIB

Rupiah atau Unit? Pertanyaan yang Belum Terjawab dari Klaim PKB Lampung

Jumat, 19 Juni 2026 - 20:59 WIB

Andan Jejama: Spirit Kepemudaan dalam Membangun Pesawaran

Berita Terbaru

PENDIDIKAN

Wagub Jihan Dorong Sarjana UNU Lampung Jadi Motor Ekonomi Desa

Sabtu, 22 Agu 2026 - 15:41 WIB