x

Ketika Lingkungan Berbicara, Manusia Harus Mendengar Perspektif Mahasiswa Psikologi

waktu baca 4 menit
Jumat, 15 Mei 2026 14:33 1 Redaksi

Oleh: Jea Riri Anggraini mahasiswa UIN Raden intan Lampung Jurusan Psikologi Islam

Banjir yang kerap melanda Kota Bandar Lampung bukan sekadar bencana hidrologis yang dapat diselesaikan dengan pembangunan drainase atau normalisasi sungai semata. Dari kacamata psikologi lingkungan, fenomena ini menyimpan lapisan persoalan yang jauh lebih kompleks menyentuh relasi manusia dengan ruang hidupnya, pola perilaku kolektif, hingga kondisi kesehatan mental warga yang tinggal di kawasan rawan banjir.


Banjir sebagai Cermin Perilaku Manusia
Psikologi lingkungan mengajarkan bahwa perilaku manusia tidak dapat dipisahkan dari konteks fisik tempat mereka hidup. Banjir di Bandar Lampung yang hampir setiap tahun merendam kawasan seperti Way Halim, Rajabasa, hingga wilayah pesisir Teluk Betung sebagian besar bukan murni bencana alam. Ia adalah konsekuensi dari akumulasi perilaku manusia: alih fungsi lahan yang masif, pembuangan sampah sembarangan di aliran sungai, hingga pembangunan permukiman di daerah resapan air.

[ADS SPACE IKLAN]


Konsep place attachment (keterikatan tempat) yang dikembangkan oleh Leila Scannell dan Robert Gifford relevan di sini. Banyak warga yang tinggal di bantaran sungai memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan tempat tinggal mereka, sehingga sulit untuk direlokasi meski risiko banjir sangat nyata. Mereka menolak pindah bukan karena tidak rasional, melainkan karena identitas dan kenangan hidup mereka terikat erat pada tempat itu. Ini adalah tantangan psikologis yang tidak bisa diabaikan dalam setiap kebijakan penanggulangan banjir.


Dampak Psikologis yang Tersembunyi
Saat banjir datang, perhatian publik terfokus pada kerugian material rumah terendam, kendaraan rusak, aktivitas lumpuh. Namun ada kerugian yang jarang dibicarakan: dampak psikologis yang meninggalkan bekas jauh setelah air surut.


Riset dalam psikologi bencana menunjukkan bahwa korban banjir berulang rentan mengalami chronic stress, kecemasan antisipatif (anticipatory anxiety), bahkan gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) terutama pada anak-anak dan kelompok rentan. Di Bandar Lampung, di mana banjir bisa terjadi beberapa kali dalam setahun, kondisi ini bersifat kronis. Warga hidup dalam ketidakpastian permanen: apakah hujan deras malam ini akan kembali menggenangi rumah mereka?


Kondisi ini memunculkan apa yang oleh psikolog lingkungan disebut sebagai learned helplessness perasaan tidak berdaya karena telah berulang kali menghadapi situasi yang di luar kendali. Akibatnya, sebagian warga menjadi apatis, tidak termotivasi untuk melakukan tindakan pencegahan, dan menyerahkan sepenuhnya nasib kepada keadaan. Siklus ini berbahaya karena justru memperparah kerentanan mereka.


Perilaku Pro-Lingkungan: Mengapa Sulit Diterapkan?
Pertanyaan yang sering muncul adalah: mengapa warga tetap membuang sampah ke sungai meski tahu itu memperparah banjir? Dari perspektif psikologi, jawabannya tidak sesederhana “tidak peduli” atau “tidak tahu.”


Teori Value-Belief-Norm (VBN) oleh Stern menjelaskan bahwa perilaku pro-lingkungan terbentuk dari rangkaian panjang: nilai personal, keyakinan akan konsekuensi, hingga norma moral. Ketika seseorang merasa bahwa tindakan individunya terlalu kecil untuk mengubah keadaan (low efficacy belief), motivasi berperilaku ramah lingkungan pun runtuh. Di kota dengan kepadatan penduduk tinggi dan tekanan ekonomi seperti Bandar Lampung, perilaku lingkungan sering kali terdesak oleh kebutuhan bertahan hidup sehari-hari.


Selain itu, diffusion of responsibility fenomena di mana seseorang merasa tanggung jawab menjadi milik semua orang sehingga akhirnya tidak ada yang bertanggung jawab sangat kental dalam persoalan kebersihan lingkungan perkotaan. “Toh yang lain juga buang sampah di sini” menjadi pembenaran yang terus berputar.


Apa yang Bisa Dilakukan? Pendekatan Psikologis
Penyelesaian masalah banjir Bandar Lampung membutuhkan intervensi yang tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga psikologis dan sosial.


Pertama, community-based intervention perlu diperkuat. Penelitian menunjukkan bahwa perubahan perilaku lingkungan lebih efektif terjadi melalui norma sosial kelompok daripada regulasi top-down. Kampanye yang melibatkan tokoh lokal, komunitas RT/RW, dan pemuda setempat akan lebih mengakar dibanding imbauan dari pemerintah kota.


Kedua, environmental education sejak dini, yang tidak hanya memberikan informasi tetapi juga membangun ecological identity rasa bahwa diri kita adalah bagian dari ekosistem, bukan penguasa atasnya.


Ketiga, layanan dukungan psikososial pasca-banjir perlu dilembagakan. Warga yang terdampak banjir berulang harus mendapat akses pada konseling, kelompok dukungan (support group), dan program pemulihan psikologis yang terstruktur.

Banjir di Bandar Lampung adalah undangan bagi kita untuk berefleksi lebih dalam. Ia bukan hanya soal curah hujan yang tinggi atau drainase yang buruk ia adalah cermin dari cara kita berhubungan dengan lingkungan, cara kita merespons stres kolektif, dan cara kita membangun (atau gagal membangun) rasa tanggung jawab bersama.


Psikologi lingkungan hadir bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk memahami bahwa manusia dan lingkungannya saling membentuk. Jika kita ingin kota ini bebas banjir, kita perlu membenahi bukan hanya saluran air, tetapi juga “saluran” dalam pikiran dan perilaku kita.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x