Menghidupkan Seni Tradisi Era Digital: Workshop Gambus Lunik Hadir di Kampus Saburai

- Jurnalis

Senin, 24 November 2025 - 07:09 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Apresiasi

LENSAPOST.CO, Bandar Lampung, – Seni tradisi menghadapi tantangan besar di era digital, terutama di kalangan mahasiswa yang lebih akrab dengan media sosial dan hiburan modern. Untuk menghidupkan kembali minat mahasiswa terhadap budaya lokal, Universitas Saburai menggelar diskusi dan workshop Gambus Lunik, alat musik tradisi Lampung, pada 26-27 November 2025.

Ketua pelaksana diskusi dan workshop gambus lunik, Erwin Putubasai, menekankan pentingnya pelestarian seni tradisi. Ia mengatakan bahwa seni tradisi adalah ekspresi budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam suatu masyarakat, yang kemudian menjadi bagian dari identitas kelompok, suku atau bangsa.

“Melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII Bengkulu & Lampung, Kementrian Kebudayaan mendukung upaya pelestarian kebudayaan yang dilakukan oleh masyarakat penggiat budaya dan seni dengan berbagai bentuk kegiatan. dan saya memandang bahwa mahasiswa adalah lahan yang potensial dalam upaya pelestarian tersebut,” ujarnya, minggu (23/11/2025).

Erwin menambahkan, di era digital, mahasiswa cenderung mengekspresikan diri melalui media sosial, konten kreatif, atau seni urban. Mereka lebih tertarik pada musik modern, film internasional, atau konten digital yang dianggap lebih gaul dan relate dengan keseharian mereka.

[ADS SPACE IKLAN]
Baca Juga :  ALAM BAKA Siapkan Aksi Besar ke Jakarta, Tuntut Kejagung-KPK Usut Tuntas Korupsi Lampung

Kondisi ini menyebabkan seni tradisi dianggap kuno, sulit dipahami, rumit, dan tidak praktis, sehingga panggung seni tradisi dikampus sangat jarang terlihat.

“Minat terhadap seni tradisi di kalangan mahasiswa menurun, akibatnya omunitas seni tradisi kesulitan merekrut anggota baru karena dianggap tidak menarik dibandingkan komunitas modern seperti band, dance cover, atau film,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Erwin mengungkapkan bahwa seni tradisi menghadapi tantangan besar di era kekinian. Upaya pelestarian tradisi harus berhadapan dengan stigma sebagai sesuatu yang kuno, tidak praktis, dan kurang diminati. Namun, di balik itu, seni tradisi menyimpan kekayaan identitas bangsa yang berisiko hilang jika tidak ada upaya serius untuk menghidupkannya kembali.

Seni tradisi bisa dikemas ulang melalui live streaming, konten media sosial, atau kolaborasi dengan musik elektronik, sehingga mahasiswa melihat seni tradisi sebagai bagian dari dunia digital mereka.

“Seni tradisi perlu dijelaskan dengan cara yang sederhana. Cerita di balik tarian atau musik tradisi bisa dikaitkan dengan isu kekinian, yang relevan dengan kehidupan mereka. Memberikan ruang kepada mahasiswa yang aktif di media sosial untuk menjadi influencer yang dapat membantu memperluas jangkauan,” kata Erwin.

Sementara itu, Pembantu Rektor III bidang Kemahasiswaan Universitas Saburai, Agung AR Carapeboka, menegaskan pentingnya kegiatan workshop gambus lunik bagi generasi muda, khususnya mahasiswa.

“untuk menghidupkan komunitas dan seni tradisi di kampus, saya memandang kegiatan diskusi yang mengusung tema Seni Tradisi dan Mahasiswa di Era Kekinian serta workshop Gambus lunik, sebagai alat musik tradisi warisan budaya lampung, perlu dilaksanakan di kampus Sabura,” ujar Agung.

Mahasiswa bukan hanya sekedar penonton, tetapi juga kreator yang menjadikan seni tradisi relevan di era digital, dan media massa adalah salah satu unsur yang dapat membuat informasi seni tradisi tersebut masif.

Baca Juga :  ALAM BAKA Guncang BGN, Bongkar Sisi Gelap MBG Lampung

Diskusi dan workshop Gambus Lunik akan diikuti perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa Seni dari berbagai perguruan tinggi, antara lain Universitas Saburai, UBL, Polinela, UMITRA, Malahayati, Teknokrat, Darmajaya, Komunitas Selira, ITERA, dan Unila.

Narasumber kegiatan terdiri dari Ari Pahala Hutabarat (seniman & budayawan), Ahmad Bastari (wartawan senior), dan Editya Rio Wirawan (komposer), dengan moderator Alexander GB. Kegiatan akan berlangsung di Gedung Graha Universitas Saburai Lantai III pada tanggal 26-27 November 2025.

Follow WhatsApp Channel lensapost.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sociopreneur Club Bersama MHC Metaganik, Gerakkan Kepedulian Kesehatan Anak dari Desa
ALAM BAKA Guncang BGN, Bongkar Sisi Gelap MBG Lampung
Diterima Audiensi Kejagung, ALAM BAKA Desak Kasus Pesawaran, Way Kanan, dan Lampung Timur Dituntaskan
ALAM BAKA Siapkan Aksi Besar ke Jakarta, Tuntut Kejagung-KPK Usut Tuntas Korupsi Lampung
IKA SUKA Lampung Gelar Reorganisasi, Prof. Dr. Safari Daud Nakhodai Kepengurusan Baru
Prabowo Sebut Jurnalis dan LSM “Londo Ireng”, Jurnalis LENSAPOST: Ini Melukai Kemerdekaan Pers
SIKAD Geruduk Kejati Lampung, Tuntut Penahanan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Aris Tama: Penegakan Hukum Harus Bebas dari Tarik-Menarik Politik
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:23 WIB

Sociopreneur Club Bersama MHC Metaganik, Gerakkan Kepedulian Kesehatan Anak dari Desa

Senin, 10 Agustus 2026 - 16:02 WIB

ALAM BAKA Guncang BGN, Bongkar Sisi Gelap MBG Lampung

Senin, 10 Agustus 2026 - 15:31 WIB

Diterima Audiensi Kejagung, ALAM BAKA Desak Kasus Pesawaran, Way Kanan, dan Lampung Timur Dituntaskan

Kamis, 6 Agustus 2026 - 01:37 WIB

ALAM BAKA Siapkan Aksi Besar ke Jakarta, Tuntut Kejagung-KPK Usut Tuntas Korupsi Lampung

Senin, 27 Juli 2026 - 12:25 WIB

IKA SUKA Lampung Gelar Reorganisasi, Prof. Dr. Safari Daud Nakhodai Kepengurusan Baru

Berita Terbaru

PENDIDIKAN

Wagub Jihan Dorong Sarjana UNU Lampung Jadi Motor Ekonomi Desa

Sabtu, 22 Agu 2026 - 15:41 WIB