Latah Menghakimi, Anarkis Itu Bukan Perusuh

- Jurnalis

Senin, 1 September 2025 - 18:53 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Apresiasi

Oleh: Hariz A’Rifa’i, S.Pd., M.I.Kom

Merujuk pada unggahan akun Instagram Narasi tv yang menjelaskan tentang distorsi makna “anarki”, saya merasa perlu ikut mengangkat hal ini dalam konteks yang lebih luas. Di tengah maraknya gejolak sosial beberapa waktu terakhir, kita kembali menyaksikan bagaimana istilah “anarkis” dilempar ke publik tanpa pemahaman yang utuh. Kata itu meluncur begitu mudah dari mikrofon aparat, headline media, hingga kolom komentar warganet—seolah menjadi label sakti untuk siapa pun yang dianggap “mengganggu ketertiban”.

Masalahnya bukan hanya pada penyematan istilah, tetapi pada bias dan ketidaktahuan yang dibawanya. Kita lupa, atau mungkin memang tidak pernah tahu, bahwa “anarkisme” adalah sebuah ideologi politik yang sah dan memiliki akar pemikiran panjang. Ia bukan tentang membakar, merusak, atau menghancurkan. Ia berbicara tentang kebebasan dari dominasi, tentang masyarakat tanpa otoritas yang menindas. Nama-nama seperti Mikhail Bakunin, Emma Goldman, hingga Noam Chomsky bisa jadi asing di telinga publik kita, tapi mereka adalah pemikir serius yang mempersoalkan kekuasaan negara—bukan pemicu kekacauan jalanan.

[ADS SPACE IKLAN]

Tapi semua itu tak terdengar dalam narasi arus utama.

Baca Juga :  Hibah Rp60 Miliar Senyap, Rp35 Miliar Riuh: Menagih Ulang Anatomi Kritik yang Kehilangan Napas

Setiap kali ada aksi massa yang berujung ricuh, media dan pejabat publik dengan sigap menyebutnya “aksi anarkis”. Tak ada perbedaan antara demonstrasi damai yang disusupi, kericuhan akibat provokasi, atau tindakan individu yang marah karena frustrasi. Semuanya digulung dalam satu istilah: anarkis. Dampaknya, terjadi delegitimasi terhadap gerakan sosial. Kritik terhadap kebijakan negara dipukul rata sebagai tindakan destruktif.

Distorsi ini bukan sekadar salah kaprah bahasa. Ia punya konsekuensi politik. Dengan menyamakan anarkisme dengan kerusuhan, negara mendapat ruang untuk membenarkan tindakan represif. Sementara media, alih-alih memperjelas, justru ikut memperkuat narasi kekuasaan. Mereka yang turun ke jalan dianggap kriminal, tanpa ada upaya memahami latar belakang kemarahan mereka. Bahkan, ketika sebagian dari mereka hanya membawa poster dan teriakan, bukan batu atau bom molotov.

Di titik ini, kita perlu mempertanyakan ulang peran media dalam membentuk opini publik. Apa tugas media ketika kata “anarkis” dilontarkan sembarangan oleh pejabat? Apakah cukup dengan menyalin pernyataan lalu menayangkannya? Di mana letak tanggung jawab editorial untuk memastikan publik mendapatkan konteks yang benar? Dan kenapa istilah yang punya sejarah panjang dan pemikiran serius dibiarkan direduksi jadi sekadar sinonim untuk “perusuh”?

Baca Juga :  Aris Tama: Merawat Nalar Publik di Tengah Dinamika Isu Kebangsaan

Kebingungan ini diperparah oleh rendahnya literasi politik di masyarakat kita. Banyak yang terbiasa menilai sesuatu hanya dari tampilan luar atau berdasarkan narasi mayoritas. Tak heran, ketika ada kelompok dengan simbol “A” dalam lingkaran, kita langsung takut. Padahal belum tentu mereka sedang merencanakan kekacauan. Bisa jadi mereka sedang membicarakan distribusi pangan alternatif, koperasi kolektif, atau sekadar membaca ulang The Conquest of Bread.

Tentu, ini bukan pembelaan terhadap aksi kekerasan. Tindakan merusak fasilitas publik tetap harus diproses secara hukum. Tapi yang keliru adalah ketika kritik politik atau demonstrasi—yang sah dalam demokrasi—disamaratakan sebagai tindakan anarkis. Kita butuh pembacaan yang lebih adil dan teliti, baik dari negara, media, maupun masyarakat.

Karena kalau kita terus latah menghakimi, terus menyamaratakan semua bentuk perlawanan sebagai kekacauan, maka kita bukan hanya keliru memahami istilah—kita sedang membunuh ruang demokrasi itu sendiri. Kita jadi takut berpikir berbeda, takut menyuarakan ketimpangan, takut mempertanyakan sistem.

Dan mungkin itu memang tujuannya.

Follow WhatsApp Channel lensapost.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hibah Rp60 Miliar Senyap, Rp35 Miliar Riuh: Menagih Ulang Anatomi Kritik yang Kehilangan Napas
Aris Tama: Merawat Nalar Publik di Tengah Dinamika Isu Kebangsaan
NU Bukan Warisan, Tapi Amanah: Catatan Seorang Nahdliyin Menjelang Muktamar Jombang
Rupiah atau Unit? Pertanyaan yang Belum Terjawab dari Klaim PKB Lampung
Andan Jejama: Spirit Kepemudaan dalam Membangun Pesawaran
Ketika Kota Menjadi Beban: Stresor Lingkungan Bandar Lampung dan Kesehatan Mental Warganya
Ketika Lingkungan Berbicara, Manusia Harus Mendengar Perspektif Mahasiswa Psikologi
Dari Kelas yang Mengajar ke Kelas yang Berdialog: Reorientasi Pendidikan Demokrasi di Indonesia
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:53 WIB

Hibah Rp60 Miliar Senyap, Rp35 Miliar Riuh: Menagih Ulang Anatomi Kritik yang Kehilangan Napas

Senin, 3 Agustus 2026 - 23:07 WIB

Aris Tama: Merawat Nalar Publik di Tengah Dinamika Isu Kebangsaan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 23:53 WIB

NU Bukan Warisan, Tapi Amanah: Catatan Seorang Nahdliyin Menjelang Muktamar Jombang

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:56 WIB

Rupiah atau Unit? Pertanyaan yang Belum Terjawab dari Klaim PKB Lampung

Jumat, 19 Juni 2026 - 20:59 WIB

Andan Jejama: Spirit Kepemudaan dalam Membangun Pesawaran

Berita Terbaru

PENDIDIKAN

Wagub Jihan Dorong Sarjana UNU Lampung Jadi Motor Ekonomi Desa

Sabtu, 22 Agu 2026 - 15:41 WIB