Oleh: Franaisca SOK
(Alumni Unila, Tinggal di Yogyakarta)
Perguruan tinggi negeri tidak seharusnya hanya mengandalkan uang kuliah tunggal (UKT) mahasiswa dan hibah pemerintah untuk membiayai pengembangan institusinya. Universitas harus mampu membangun sumber pendapatan alternatif melalui optimalisasi aset, fasilitas, keahlian akademik, dan hasil penelitian.
Gagasan ini menjadi penting dalam membaca visi calon Rektor Universitas Lampung periode 2027–2031, Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, M.Kes., Sp.KKLP.
Dalam dokumen visi-misinya, terdapat target peningkatan pendapatan non-UKT secara berkelanjutan melalui komersialisasi inovasi, layanan profesional, rumah sakit pendidikan, laboratorium, dan kemitraan strategis.
Ini merupakan arah pengembangan yang perlu diterjemahkan menjadi strategi bisnis institusi.
Unila memiliki aset yang dapat dikembangkan menjadi pusat aktivitas ekonomi produktif. Salah satunya RSPTN, yang tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pendidikan dan pelayanan kesehatan, tetapi juga berpotensi menghasilkan pendapatan dari layanan medis, laboratorium, penelitian klinis, dan pendidikan profesi.
Selain itu, terdapat informasi mengenai lahan sekitar 150 hektare yang dapat dikaji pemanfaatannya untuk pertanian, peternakan, industri pengolahan, maupun pusat hilirisasi penelitian.
Bayangkan jika sebagian lahan tersebut dikembangkan menjadi kawasan pertanian modern yang melibatkan fakultas, peneliti, mahasiswa, koperasi, dan mitra industri.
Hasilnya bukan hanya produk pertanian, tetapi juga pendapatan institusi, kesempatan magang, lapangan kerja, dan penelitian terapan.
Visi Prof. Asep Sukohar tentang universitas berkelas dunia perlu diterjemahkan ke dalam kemampuan membangun kemandirian ekonomi kampus.
Tentu, setiap pengembangan harus melalui studi kelayakan, kepastian hukum aset, perhitungan investasi, serta tata kelola keuangan yang transparan.
Unila harus mulai membangun model perguruan tinggi produktif: kampus yang tidak hanya mengeluarkan biaya untuk pendidikan, tetapi juga mampu menghasilkan nilai ekonomi dari ilmu pengetahuan dan aset yang dimilikinya.















Komentar