Aris Tama: Demokrasi Bukan Soal Membela atau Menyalahkan, tetapi Membaca Realitas Secara Objektif

- Jurnalis

Selasa, 3 November 2026 - 17:06 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

LENSAPOST.CO, Pemerintahan Tak Cukup Dinilai dari Capaian, Realitas dan Kepentingan Publik Harus Dibaca Secara Utuh

Ketua Umum Aliansi Rakyat Mahasiswa Anak Daerah (ARMADA) sekaligus pengamat sosial, Aris Tama, menilai dinamika pemerintahan saat ini perlu dibaca secara lebih objektif dan komprehensif. Menurutnya, realitas politik dan pemerintahan tidak selalu berjalan seideal narasi yang dibangun, tetapi juga tidak tepat jika seluruh kebijakan dinilai secara negatif.

Aris berpandangan, pemerintahan selalu memiliki dua sisi yang berjalan beriringan: capaian yang patut diapresiasi dan persoalan yang membutuhkan evaluasi. Keduanya merupakan bagian dari realitas penyelenggaraan negara yang harus dilihat berdasarkan fakta, bukan semata-mata sentimen politik.

[ADS SPACE IKLAN]

Di satu sisi, berbagai program pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, infrastruktur, dan pemberdayaan ekonomi menunjukkan adanya upaya pemerintah dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Namun, di sisi lain, efektivitas pelaksanaan, pemerataan manfaat, konsistensi kebijakan, serta persoalan ekonomi dan sosial masih menjadi pekerjaan yang perlu mendapatkan perhatian serius.

“Pemerintahan tidak bisa hanya dinilai dari apa yang berhasil ditampilkan, tetapi juga dari persoalan yang belum mampu diselesaikan. Begitu pula sebaliknya, kekurangan pemerintah tidak boleh dijadikan alasan untuk menafikan seluruh capaian yang memang dirasakan masyarakat,” ujar Aris.

Politik, Kepentingan, dan Realitas Perjuangan

Lebih jauh, Aris menyoroti dinamika politik yang menurutnya sering kali memperlihatkan adanya jarak antara idealisme perjuangan dan praktik kepentingan.

Baca Juga :  Jelang Sumpah Pemuda 28 Oktober, Aris Tama Serukan Dukungan Konstruktif terhadap Program Strategis Pemerintah

Dalam kehidupan politik, setiap aktor memiliki latar belakang, orientasi, dan kepentingannya masing-masing. Hal tersebut merupakan realitas yang tidak dapat dihindari. Persoalannya muncul ketika kepentingan pribadi maupun kelompok lebih dominan daripada kepentingan publik.

Ia mengingatkan bahwa narasi perjuangan, baik yang disampaikan oleh pemerintah, kelompok politik, maupun elemen masyarakat sipil, tidak seharusnya diterima begitu saja tanpa pengujian kritis.

“Tidak semua yang berbicara atas nama rakyat otomatis benar-benar memperjuangkan rakyat. Namun, kita juga tidak boleh menggeneralisasi bahwa tidak ada lagi perjuangan yang tulus. Ketulusan harus diuji melalui integritas, konsistensi, pengorbanan, dan keberanian mempertanggungjawabkan tindakan,” tegasnya.

Menurut Aris, persoalan mendasar bukan sekadar siapa yang berada di dalam kekuasaan atau di luar kekuasaan, melainkan sejauh mana seluruh elemen mampu menjaga komitmen terhadap kepentingan masyarakat.

Tidak Semua Harus Dipuji, Tidak Semua Harus Dicaci

Aris menilai salah satu tantangan demokrasi saat ini adalah kecenderungan melihat persoalan secara hitam-putih. Pemerintah kerap dinilai berdasarkan loyalitas politik, sementara kritik terkadang dibangun atas dasar ketidaksukaan, bukan kajian terhadap substansi kebijakan.

Padahal, demokrasi membutuhkan ruang penilaian yang sehat. Kebijakan yang berhasil harus mendapatkan pengakuan, sementara kebijakan yang bermasalah harus dikritisi dan diperbaiki.

“Jangan sampai apresiasi berubah menjadi pembenaran tanpa batas. Sebaliknya, jangan sampai kritik kehilangan objektivitas hanya karena perbedaan kepentingan. Kita membutuhkan keberanian untuk mengakui kebenaran, sekaligus kedewasaan untuk menerima koreksi,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan evaluasi kelembagaan sebagai bagian dari upaya menjaga kepercayaan publik terhadap pemerintahan.

Baca Juga :  Jelang Sumpah Pemuda 28 Oktober, Aris Tama Serukan Dukungan Konstruktif terhadap Program Strategis Pemerintah

Mengembalikan Orientasi Politik kepada Kepentingan Rakyat

Bagi ARMADA, ukuran keberhasilan kehidupan bernegara bukan terletak pada seberapa kuat kelompok politik mempertahankan pengaruhnya, melainkan pada kemampuan negara menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan kesempatan yang setara bagi masyarakat.

Aris menilai mahasiswa, generasi muda, dan masyarakat sipil harus tetap memiliki jarak kritis terhadap kekuasaan maupun kelompok yang mengatasnamakan perjuangan. Independensi berpikir menjadi penting agar idealisme tidak mudah berubah menjadi alat legitimasi kepentingan tertentu.

“Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan terlalu banyak narasi tentang siapa yang paling berjasa atau paling benar. Rakyat membutuhkan kehidupan yang lebih baik, kebijakan yang adil, pelayanan yang berkualitas, dan kepastian bahwa kepentingan mereka benar-benar diperhatikan,” tuturnya.

Aris menegaskan, ARMADA akan menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat sipil yang mendorong cara pandang kritis, objektif, dan konstruktif dalam membaca setiap dinamika pemerintahan.

Sebab, dalam demokrasi yang sehat, mendukung tidak harus kehilangan daya kritis, dan mengkritik tidak harus kehilangan objektivitas. Kepentingan rakyat harus tetap menjadi titik temu di tengah berbagai perbedaan kepentingan politik.

Follow WhatsApp Channel lensapost.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Demokrasi Kampus Berjalan Terbuka, Dr. Budiono Raih Suara Terbanyak dalam Seleksi Pemilihan Rektor Unila, Gepak Ucapkan Selamat
Jelang Sumpah Pemuda 28 Oktober, Aris Tama Serukan Dukungan Konstruktif terhadap Program Strategis Pemerintah
Jelang Sumpah Pemuda 28 Oktober, Aris Tama Serukan Dukungan Konstruktif terhadap Program Strategis Pemerintah
Hibah Rp60 Miliar Senyap, Rp35 Miliar Riuh: Menagih Ulang Anatomi Kritik yang Kehilangan Napas
Aris Tama: Merawat Nalar Publik di Tengah Dinamika Isu Kebangsaan
NU Bukan Warisan, Tapi Amanah: Catatan Seorang Nahdliyin Menjelang Muktamar Jombang
Rupiah atau Unit? Pertanyaan yang Belum Terjawab dari Klaim PKB Lampung
Andan Jejama: Spirit Kepemudaan dalam Membangun Pesawaran
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 17:06 WIB

Aris Tama: Demokrasi Bukan Soal Membela atau Menyalahkan, tetapi Membaca Realitas Secara Objektif

Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:23 WIB

Demokrasi Kampus Berjalan Terbuka, Dr. Budiono Raih Suara Terbanyak dalam Seleksi Pemilihan Rektor Unila, Gepak Ucapkan Selamat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:59 WIB

Jelang Sumpah Pemuda 28 Oktober, Aris Tama Serukan Dukungan Konstruktif terhadap Program Strategis Pemerintah

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:55 WIB

Jelang Sumpah Pemuda 28 Oktober, Aris Tama Serukan Dukungan Konstruktif terhadap Program Strategis Pemerintah

Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:53 WIB

Hibah Rp60 Miliar Senyap, Rp35 Miliar Riuh: Menagih Ulang Anatomi Kritik yang Kehilangan Napas

Berita Terbaru