Aris Tama: Merawat Nalar Publik di Tengah Dinamika Isu Kebangsaan

- Jurnalis

Senin, 3 Agustus 2026 - 23:07 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Opini Oleh: Aris Tama
Menjelang Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, ruang publik nasional dipenuhi beragam isu strategis yang saling berkelindan dan semakin kompleks. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, dinamika harga bahan bakar minyak dan kebijakan energi, perpajakan, penanganan perkara oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), wacana keterlibatan TNI dalam ranah sipil, pemberantasan judi daring, hingga gelombang demonstrasi menjadi bagian dari diskursus kebangsaan yang tidak hanya ramai, tetapi juga memunculkan beragam kepentingan dan perspektif.

Di tengah situasi tersebut, kebutuhan paling mendesak bukan sekadar menghadirkan lebih banyak informasi, melainkan memperkuat nalar publik agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang bising, reaktif, dan manipulatif. Kemampuan membedakan fakta, opini, dan propaganda menjadi modal penting bagi kehidupan demokrasi yang sehat.

Derasnya arus informasi memang menghadirkan dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, ia memperluas ruang partisipasi masyarakat dalam mengawasi jalannya pemerintahan. Namun di sisi lain, ia juga membuka peluang berkembangnya disinformasi, polarisasi, dan pembelahan sosial. Tanpa kedewasaan berpikir, perbedaan pandangan yang semestinya menjadi kekuatan demokrasi justru berubah menjadi konflik yang mengikis kohesi kebangsaan. Karena itu, yang dibutuhkan hari ini bukan hanya kebebasan berpendapat, melainkan kedisiplinan berpikir serta tanggung jawab moral dalam menyampaikan pandangan di ruang publik.

[ADS SPACE IKLAN]

Demokrasi tidak boleh direduksi hanya sebagai kebebasan bersuara. Demokrasi yang sehat diukur dari kualitas argumentasi, keluasan ruang dialog, dan kemampuan seluruh elemen bangsa menghargai perbedaan. Pemerintah dituntut tidak hanya menghadirkan kebijakan, tetapi juga memastikan setiap kebijakan dapat diuji secara terbuka, transparan, dan akuntabel. Sebaliknya, masyarakat sipil perlu membangun budaya kritik yang berbasis data, argumentasi yang kuat, dan orientasi pada solusi, bukan sekadar memperkeruh suasana politik.

Baca Juga :  NU Bukan Warisan, Tapi Amanah: Catatan Seorang Nahdliyin Menjelang Muktamar Jombang

Program-program strategis seperti MBG dan Koperasi Merah Putih perlu ditempatkan secara objektif sebagai instrumen pembangunan jangka panjang. Tujuannya tidak hanya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga memperkuat ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM, petani, nelayan, dan pelaku usaha lokal. Keberhasilan program-program tersebut tidak cukup diukur dari besarnya anggaran maupun luasnya cakupan penerima manfaat, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat serta kemampuannya mengurangi ketimpangan sosial dan ekonomi.

Pada saat yang sama, stabilitas harga energi, kepastian kebijakan perpajakan, dan konsistensi regulasi menjadi fondasi penting bagi terciptanya iklim ekonomi yang sehat dan berkeadilan. Dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global, pemerintah perlu merancang kebijakan fiskal dan energi secara cermat agar mampu menjaga keberlanjutan keuangan negara tanpa mengabaikan daya beli masyarakat. Keseimbangan antara disiplin fiskal dan perlindungan sosial merupakan syarat penting untuk menjaga kepercayaan publik.

Supremasi hukum juga harus ditegakkan tanpa kompromi. Penanganan perkara oleh aparat penegak hukum, termasuk Jampidsus, wajib dilaksanakan secara profesional, transparan, independen, dan bebas dari intervensi politik maupun kepentingan non-hukum. Kepercayaan masyarakat terhadap negara hukum hanya akan tumbuh apabila prinsip persamaan di hadapan hukum benar-benar diwujudkan dalam praktik, tanpa diskriminasi dan tanpa tebang pilih.

Perdebatan mengenai keterlibatan TNI dalam ranah sipil pun harus ditempatkan secara proporsional dalam koridor konstitusi dan prinsip demokrasi. Setiap perluasan kewenangan institusi negara harus melalui pembahasan yang terbuka, objektif, dan berbasis kepentingan nasional jangka panjang. Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar, tetapi tidak boleh berkembang menjadi polarisasi yang melemahkan persatuan bangsa.

Baca Juga :  Rupiah atau Unit? Pertanyaan yang Belum Terjawab dari Klaim PKB Lampung

Demonstrasi sebagai hak konstitusional warga negara juga harus dipahami sebagai bagian dari mekanisme kontrol sosial dalam negara demokrasi. Namun, kebebasan tersebut berjalan beriringan dengan tanggung jawab untuk menjaga ketertiban umum, menghindari kekerasan, serta memastikan aspirasi yang disampaikan benar-benar berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.

Momentum HUT ke-81 Republik Indonesia sepatutnya menjadi ruang refleksi bersama. Kemerdekaan bukan sekadar peringatan historis, melainkan amanat untuk terus membangun bangsa yang semakin rasional, adil, dan beradab dalam mengelola perbedaan. Indonesia membutuhkan masyarakat yang kritis, tetapi juga matang dalam berpikir, bijaksana dalam bersikap, dan mampu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.

Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh banyaknya isu yang memenuhi ruang publik, melainkan oleh kemampuan kolektif bangsa dalam menyaring informasi, membangun dialog yang sehat, serta merumuskan solusi atas setiap persoalan. Menjelang usia ke-81 kemerdekaan, semangat persatuan harus diwujudkan melalui penguatan nalar publik, penegakan hukum yang berkeadilan, tata kelola pemerintahan yang transparan, serta partisipasi masyarakat yang bertanggung jawab. Dengan demikian, optimisme terhadap masa depan Indonesia tidak berhenti sebagai harapan, tetapi menjadi ikhtiar bersama untuk mewujudkan Indonesia yang semakin maju, berkeadilan, dan bermartabat.

Follow WhatsApp Channel lensapost.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

NU Bukan Warisan, Tapi Amanah: Catatan Seorang Nahdliyin Menjelang Muktamar Jombang
Rupiah atau Unit? Pertanyaan yang Belum Terjawab dari Klaim PKB Lampung
Andan Jejama: Spirit Kepemudaan dalam Membangun Pesawaran
Ketika Kota Menjadi Beban: Stresor Lingkungan Bandar Lampung dan Kesehatan Mental Warganya
Ketika Lingkungan Berbicara, Manusia Harus Mendengar Perspektif Mahasiswa Psikologi
Dari Kelas yang Mengajar ke Kelas yang Berdialog: Reorientasi Pendidikan Demokrasi di Indonesia
MENGESAHKAN UU PRT: CARA MEMANUSIAKAN MANUSIA DI RUMAH KITA SENDIRI
JALAN BARU GERAKAN RAKYAT : DARI KESADARAN OBJEK MENUJU KESADARAN SUBJEK
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 23:07 WIB

Aris Tama: Merawat Nalar Publik di Tengah Dinamika Isu Kebangsaan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 23:53 WIB

NU Bukan Warisan, Tapi Amanah: Catatan Seorang Nahdliyin Menjelang Muktamar Jombang

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:56 WIB

Rupiah atau Unit? Pertanyaan yang Belum Terjawab dari Klaim PKB Lampung

Jumat, 19 Juni 2026 - 20:59 WIB

Andan Jejama: Spirit Kepemudaan dalam Membangun Pesawaran

Jumat, 29 Mei 2026 - 11:44 WIB

Ketika Kota Menjadi Beban: Stresor Lingkungan Bandar Lampung dan Kesehatan Mental Warganya

Berita Terbaru