NU Bukan Warisan, Tapi Amanah: Catatan Seorang Nahdliyin Menjelang Muktamar Jombang

- Jurnalis

Minggu, 2 Agustus 2026 - 23:53 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Opini oleh: Jayana Rifaldi (Warga Nahdiyin Kultural)

Setiap kali Muktamar NU digelar, saya selalu teringat pesan sederhana dari kiai kampung saya: “NU itu bukan milik pengurus, NU itu milik umat.” Kalimat itu terasa makin relevan menjelang Muktamar ke depan yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, 27-31 Agustus 2026 bukan sekadar di kalender, tapi juga di rahim sejarah kelahiran NU sendiri.

Sebagai bagian dari 140 juta jiwa yang menurut survei Alvara Research Center mengidentifikasi diri sebagai Nahdliyin, saya merasa berhak bahkan berkewajiban untuk bersuara. Sebab Muktamar bukan sekadar hajatan lima tahunan untuk mengganti wajah di pucuk pimpinan. Ia adalah pertaruhan arah: apakah NU akan tetap menjadi kekuatan moral bangsa, atau justru tergelincir menjadi alat tawar-menawar kekuasaan yang menggerus muruahnya sendiri.

[ADS SPACE IKLAN]

Ketika NU Digoda Kekuasaan, Sudah bukan rahasia, setiap menjelang Muktamar, aroma politik selalu tercium lebih dulu daripada aroma kitab kuning. Nama-nama yang diperbincangkan publik seringkali bukan karena rekam jejak keulamaan atau khidmatnya di pesantren, melainkan karena kedekatan dengan kekuasaan, aktor partai, atau kepentingan bisnis tertentu. Ini yang paling saya khawatirkan.

Saya sepakat dengan apa yang disampaikan tokoh muda NU, Hatim Gazali, bahwa pemimpin NU ke depan harus menjaga independensi organisasi tidak menjadi bagian dari partai politik maupun menduduki jabatan politik. Tapi bagi saya sebagai warga Nahdliyin biasa, syarat itu sesungguhnya belum cukup. Independensi bukan hanya soal status formal tidak berpartai, melainkan soal keberanian menolak godaan menjadi “stempel” bagi kepentingan kekuasaan mana pun, termasuk kekuasaan yang mengaku dekat dengan NU sekalipun.

Baca Juga :  Rupiah atau Unit? Pertanyaan yang Belum Terjawab dari Klaim PKB Lampung

Pemimpin dari Bilik Pesantren, Bukan dari Ruang Rapat Elite, Saya ingin pemimpin baru NU adalah sosok yang keringatnya masih menempel bau kitab dan sarung, bukan yang lebih fasih berbicara di podium seminar internasional ketimbang duduk bersila mengaji bersama santri di pelosok. NU besar bukan karena gedung-gedung megah kepengurusannya, tapi karena akar rumput yang setiap hari mengurus zakat, mengurus jenazah, mengajar ngaji anak-anak kampung tanpa pernah masuk berita.

Karena itu, kriteria yang disebutkan Hatim punya akar kuat di pesantren, berkhidmat panjang dari ranting hingga pusat bukan sekadar kriteria administratif. Itu adalah jaminan bahwa pemimpin NU nanti masih bisa merasakan denyut nadi umat di lapisan paling bawah, bukan hanya membaca laporan di atas kertas.

Berpihak, Bukan Netral yang Membisu Ada satu hal yang menurut saya sering luput dari diskursus elite: NU ke depan tidak boleh memilih “aman” dengan cara diam di tengah ketidakadilan. Berpihak kepada kelompok lemah, sebagaimana disinggung dalam kriteria itu, harus diterjemahkan menjadi keberanian bersikap—entah soal petani yang tanahnya digusur proyek strategis nasional, buruh yang upahnya tergerus, atau minoritas yang haknya dipersempit. NU yang hanya rajin mengeluarkan pernyataan normatif tanpa keberpihakan nyata, sesungguhnya sedang mengkhianati semangat “ahlussunnah wal jamaah” yang selalu diagungkan namanya.

Baca Juga :  Aris Tama: Merawat Nalar Publik di Tengah Dinamika Isu Kebangsaan

Modernisasi Tanpa Kehilangan Ruh Saya juga berharap pemimpin baru NU punya keberanian mendorong modernisasi organisasi—digitalisasi layanan umat, tata kelola keuangan yang transparan, hingga kaderisasi berbasis kompetensi, bukan sekadar kedekatan personal. Tapi modernisasi ini jangan sampai mencerabut ruh pesantren yang menjadi fondasi NU sejak awal berdiri. NU boleh melangkah maju ke ranah digital dan global, tapi jangan sampai kehilangan wangi tanah pesantren yang membesarkannya.

Muktamar Ini Ujian, Bukan Sekadar Seremoni Pada akhirnya, sebagai Nahdliyin, saya tidak ingin Muktamar Jombang hanya menjadi panggung seremoni pergantian kepengurusan yang berulang setiap lima tahun tanpa perubahan substansial. Saya ingin muktamar ini menjadi titik balik: melahirkan pemimpin yang berintegritas, berani, merakyat, dan mandiri dari kepentingan kekuasaan mana pun.

Sejarah akan mencatat, apakah Muktamar ini menjadi panggung kebangkitan NU sebagai kekuatan masyarakat sipil yang otentik, atau justru catatan kelam ketika NU tunduk pada logika kekuasaan dan kepentingan segelintir elite. Sebagai warga Nahdliyin, saya memilih untuk tetap berharapsembari terus mengawasi, tanpa kompromi.

Follow WhatsApp Channel lensapost.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aris Tama: Merawat Nalar Publik di Tengah Dinamika Isu Kebangsaan
Rupiah atau Unit? Pertanyaan yang Belum Terjawab dari Klaim PKB Lampung
Andan Jejama: Spirit Kepemudaan dalam Membangun Pesawaran
Ketika Kota Menjadi Beban: Stresor Lingkungan Bandar Lampung dan Kesehatan Mental Warganya
Ketika Lingkungan Berbicara, Manusia Harus Mendengar Perspektif Mahasiswa Psikologi
Dari Kelas yang Mengajar ke Kelas yang Berdialog: Reorientasi Pendidikan Demokrasi di Indonesia
MENGESAHKAN UU PRT: CARA MEMANUSIAKAN MANUSIA DI RUMAH KITA SENDIRI
JALAN BARU GERAKAN RAKYAT : DARI KESADARAN OBJEK MENUJU KESADARAN SUBJEK
Berita ini 26 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 23:07 WIB

Aris Tama: Merawat Nalar Publik di Tengah Dinamika Isu Kebangsaan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 23:53 WIB

NU Bukan Warisan, Tapi Amanah: Catatan Seorang Nahdliyin Menjelang Muktamar Jombang

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:56 WIB

Rupiah atau Unit? Pertanyaan yang Belum Terjawab dari Klaim PKB Lampung

Jumat, 19 Juni 2026 - 20:59 WIB

Andan Jejama: Spirit Kepemudaan dalam Membangun Pesawaran

Jumat, 29 Mei 2026 - 11:44 WIB

Ketika Kota Menjadi Beban: Stresor Lingkungan Bandar Lampung dan Kesehatan Mental Warganya

Berita Terbaru